Tahun 2010 merupakan awal baru dari era perdagangan bebas di kawasan ini. Negara-negara ASEAN telah berkomitmen untuk mengimplementasikan perdagangan bebas dengan China. Bagaimanakah dampak dari perkembangan ini terhadap Indonesia dan haruskah kita menunda implementasinya?
Pada tahun 2010 pasar ASEAN akan menjadi lebih terbuka lagi dari sebelumnya. Enam negara ASEAN utama (Brunei, Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand) akan menambah 7.881 jenis tarif yang diturunkan menjadi nol. Dengan demikian, total jumlah pos tarif yang masuk dalam tarif preferensi efektif untuk perdagangan bebas ASEAN menjadi 54.457 atau 99,11 persen dari seluruh jenis tarif perdagangan.
Maka, rata-rata tarif yang berlaku di antara enam negara itu akan turun dari 0,79 persen pada tahun 2009 menjadi 0,05 persen pada tahun 2010.
Saat yang bersamaan, ASEAN juga telah sepakat untuk meliberalisasikan perdagangannya dengan China. Artinya, tarif impor antara China dan negara-negara ASEAN akan turun dengan amat signifikan.
Dominasi China di pasar dunia membuat banyak kalangan khawatir akan dampak negatif dari perjanjian perdagangan bebas dengan China. Beberapa bahkan mengusulkan untuk menunda implementasi perjanjian perdagangan bebas tersebut.
Simulasi perdagangan bebas
Untuk melihat strategi yang paling tepat, Danareksa Research Institute melakukan simulasi perdagangan bebas dengan dua skenario. Skenario pertama mengasumsikan Indonesia terlibat dalam AFTA sepenuhnya, sekaligus ikut serta dalam perdagangan bebas AFTA-China.
Jadi, tarif impor antarnegara ASEAN dijadikan nol. Tarif impor antara ASEAN dan China juga nol. Dalam Skenario yang kedua, Indonesia hanya mengimplementasikan perjanjian perdagangan dengan ASEAN, tetapi tidak ikut perdagangan bebas dengan China, sedangkan negara-negara ASEAN yang lain tetap melakukan liberalisasi perdagangan dengan China.
Untuk menghitung simulasi di atas, digunakan program Global Trade Analysis Project (GTAP). GTAP adalah program yang memanfaatkan database perdagangan dunia dalam struktur software dengan kerangka general equilibrium. GTAP dikembangkan di Purdue University, Amerika Serikat. GTAP sering untuk menghitung dampak suatu kebijakan perdagangan bilateral ataupun multilateral.
Database yang digunakan dalam simulasi ini adalah database versi 6. Walau bukan data yang terkini ada di perekonomian, penggunaan data ini tetap dapat memberikan gambaran yang lebih jelas tentang dampak suatu liberalisasi perdagangan terhadap negara-negara yang terlibat.
Tabel 1 memperlihatkan dampak perdagangan bebas dengan kedua skenario yang disebutkan di atas. Hasil simulasi menunjukkan bahwa secara keseluruhan perjanjian perdagangan bebas dengan kedua skenario di atas memberi dampak positif terhadap volume ekspor Indonesia maupun terhadap seluruh negara yang terlibat dalam perjanjian perdagangan tersebut.
Untuk skenario pertama terlihat bahwa ekspor Indonesia naik 1.365 juta dollar AS. Peningkatan ini terutama didukung oleh kenaikan ekspor ke China (naik 3.443 juta dollar AS), Malaysia (naik 462 juta dollar AS), Thailand (naik 1.213 juta dollar AS), dan Filipina (naik 114 juta dollar AS). Adapun ekspor Indonesia ke Singapura turun 167 juta dollar AS.
Penurunan ekspor Indonesia ke Singapura menggambarkan bahwa dengan AFTA, kita tidak lagi harus mengekspor ke negara ASEAN melalui Singapura.
Hal yang juga perlu diperhatikan di sini adalah kenaikan ekspor Indonesia ke China masih jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kenaikan ekspor China ke Indonesia yang hanya 1.776 juta dollar AS. Jadi, dalam skenario pertama ini Indonesia mengalami tambahan surplus perdagangan dengan China.
Sementara bila Indonesia tidak ikut mengimplementasikan perdagangan bebas dengan China (skenario II), volume perdagangan total Indonesia hanya naik 627 juta dollar AS. Ekspor kita ke China bahkan akan turun sebesar 435 juta dollar AS.
Hal ini terjadi karena pangsa pasar kita di China tergerus oleh produk-produk dari negara-negara ASEAN lainnya yang sekarang menjadi lebih murah dibandingkan produk kita karena tarif impornya di China turun amat signifikan (akibat perjanjian perdagangan tersebut).
Keadaan ini terlihat dari kenaikan ekspor negara ASEAN lainnya ke China pada skenario II yang lebih tinggi dari kenaikan pada skenario I. Misalnya, pada skenario II ekspor Thailand ke China naik 6.894 juta dollar AS, lebih tinggi dari peningkatan 6.750 juta dollar AS pada skenario I.
Pada skenario II, kenaikan ekspor negara ASEAN ke Indonesia pun lebih tinggi. Hal ini terjadi karena produk-produk dari negara ASEAN tersebut menjadi lebih kompetitif dibandingkan dengan produk Indonesia. Ini disebabkan beberapa sektor industri mereka mendapatkan akses ke bahan baku atau bahan input antara (intermediate product) yang lebih murah dari China. Sementara itu, produsen Indonesia tidak.
Selain itu, barang-barang dari negara ASEAN yang lain menjadi lebih dapat bersaing di pasar Indonesia dengan barang dari China yang masif terkena tarif impor. Kenaikan ekspor dapat juga terjadi karena mereka memanfaatkan keadaan untuk mengimpor barang dari China kemudian mengekspornya ke Indonesia (ingat ekspor dari negara ASEAN ke negara ASEAN lainnya tidak terkena tarif yang berarti). Walaupun menurut perjanjian tidak diperbolehkan, pada kenyataannya sulit untuk mencegah terjadinya praktik seperti ini.
Simulasi menunjukkan, secara keseluruhan perjanjian AFTA dan FTA ASEAN-China akan meningkatkan kemakmuran Indonesia. Salah satu ukurannya adalah equivalent variation (EV). Dalam skenario I semua negara ASEAN mengalami perubahan EV positif (tabel 2), sedangkan China mengalami EV negatif.
Artinya, FTA ASEAN-China akan memberikan peningkatan kemakmuran yang lebih besar kepada negara ASEAN. Jadi, tidaklah mengherankan bila negara-negara kawasan ini tampak tidak ragu-ragu untuk mengimplementasikan perjanjian perdagangan bebas dengan China.
asean - China - efek fta - FTA - impor - indonesia - perdagangan bebas - tarif |